Selamat pagi siang sore ataupun malam kalian semua yang baca ini, dipostingan kali ini gue mau nyeritain hari pertama gue menjadi anak kost, tanpa banyak cingcong kita langsung mulai saja ceritanya :D
Pada suatu hari di zaman yang damai dan semua orang senang hidup lah seorang anak ceria namun semua berubah saat negara api menyerang *eh ini gue ngomong apaan sih? oke skip gue gabang (gaje banget) *
Nah jadi gini, kemarin itu gue baru pindahan ke kost. di kostan itu gue punya 2 kunci, kunci pertama itu kunci kamar dan kedua kunci gerbang. Nah kebetulan kunci kamar gue itu gue titipin ke ibu kost karena kamar gue mau dibenerin masalah listriknya
Minggu, 26 Agustus 2012
Minggu, 13 Mei 2012
Perubahan
Selamat pagi, siang atau malam. akhirnya setelah sekian lama blog ini vakum cukup lama gue bakalan kembali aktif dalam dunia blog ini *tepuk tangan*
ya mungkin gue bakalan aktif lagi, TAPI akan ada banyak perubahan sebagaimana judul postingan ini.
kenapa berubah? ya namanya juga manusia, ketika itu saya masih labil *sekarang juga masih* dengan hanya
ya mungkin gue bakalan aktif lagi, TAPI akan ada banyak perubahan sebagaimana judul postingan ini.
kenapa berubah? ya namanya juga manusia, ketika itu saya masih labil *sekarang juga masih* dengan hanya
Sabtu, 22 Januari 2011
Rupert Grint Sejak Awal Mengincar Peran Ron Weasley
“RON adalah pahlawan. Dia selalu ada untuk teman-temannya -- kadang dengan cara yang tak terbayangkan. Dia juga menjadi penghibur di saat penuh tekanan, orang yang kocak. Ron akan mengesampingkan ketakutannya untuk mendukung dan melindungi orang-orang yang ia cintai. Bagi saya, itulah keberanian sejati.”
Itu yang dikatakan Rupert Grint, pemeran Ron Weasley mengenai karakter yang ia mainkan kepada Brian Sibley, penulis buku Harry Potter Film Wizardry.
Sejak awal, Rupert mengincar karakter Ron Weasley. Tidak seperti anak-anak lain yang memilih peran utama, Rupert hanya ingin peran Ron. “Saya ikut audisi karena saya pecinta buku-buku Harry Potter dan pernah menang lomba mirip Ron Weasley,” kata pemilik rambut merah ini suatu ketika. Tak punya impian menjadi aktor, Rupert nyemplung menjajal audisi peran Ron. Sewaktu tahu kiriman untuk audisi berisi foto, formulir, dan berkas lainnya belum juga mendapat balasan, Rupert, dibantu sang ibu, membuat rekaman sendiri. Rupert memakai baju wanita menyerupai ibu guru dramanya di sekolah dan melantunkan lirik rap ciptaannya yang berisi keinginan memerankan Ron dan mengapa ia pantas mendapatkan peran itu. Satu cara yang unik, orisinal, dan kreatif.
Itu yang dikatakan Rupert Grint, pemeran Ron Weasley mengenai karakter yang ia mainkan kepada Brian Sibley, penulis buku Harry Potter Film Wizardry.
Sejak awal, Rupert mengincar karakter Ron Weasley. Tidak seperti anak-anak lain yang memilih peran utama, Rupert hanya ingin peran Ron. “Saya ikut audisi karena saya pecinta buku-buku Harry Potter dan pernah menang lomba mirip Ron Weasley,” kata pemilik rambut merah ini suatu ketika. Tak punya impian menjadi aktor, Rupert nyemplung menjajal audisi peran Ron. Sewaktu tahu kiriman untuk audisi berisi foto, formulir, dan berkas lainnya belum juga mendapat balasan, Rupert, dibantu sang ibu, membuat rekaman sendiri. Rupert memakai baju wanita menyerupai ibu guru dramanya di sekolah dan melantunkan lirik rap ciptaannya yang berisi keinginan memerankan Ron dan mengapa ia pantas mendapatkan peran itu. Satu cara yang unik, orisinal, dan kreatif.
Selasa, 21 Desember 2010
Definisi Mantra
Jika Anda membaca Harry Potter versi Bahasa Inggris atau menonton film nya, Anda pasti mendengar beberapa kata yang semuanya bisa berarti mantra; spell, charm, jinx, hex, curse. Sebenarnya apa perbedaan penggunaan masing-masing kata itu? Dalam situsnyawww.jkrowling.com JKR menjelaskan tentang definisi masing-masing istilah tersebut.
Spell adalah mantra secara umum. Sedangkan 4 istilah lainnya dibedakan berdasarkan kegunaan dan tujuan dari suatu mantra. Mantra yang termasuk charm adalah mantra yang menambah atau mengubah sifat suatu objek. Mengubah gelas menjadi tikus dikategorikan sebagai spell, tapi membuat gelas menari adalah termasuk charm.
Jinx dan hex termasuk dalam kategori ilmu hitam. Bedanya adalah hex digunakan untuk mendefinisikan sihir hitam yang lebih parah dari jinx. Sedangkan jinx lebih minor, efeknya melukai tapi lucu, misalnya melekatkan lidah pada langit-langit mulut dengan mantra Langlock. Sementara curse yang diterjemahkan sebagai kutukan adalah sihir hitam yang paling buruk, contohnya yang paling terkenal adalah kutukan pembunuh.
Spell adalah mantra secara umum. Sedangkan 4 istilah lainnya dibedakan berdasarkan kegunaan dan tujuan dari suatu mantra. Mantra yang termasuk charm adalah mantra yang menambah atau mengubah sifat suatu objek. Mengubah gelas menjadi tikus dikategorikan sebagai spell, tapi membuat gelas menari adalah termasuk charm.
Jinx dan hex termasuk dalam kategori ilmu hitam. Bedanya adalah hex digunakan untuk mendefinisikan sihir hitam yang lebih parah dari jinx. Sedangkan jinx lebih minor, efeknya melukai tapi lucu, misalnya melekatkan lidah pada langit-langit mulut dengan mantra Langlock. Sementara curse yang diterjemahkan sebagai kutukan adalah sihir hitam yang paling buruk, contohnya yang paling terkenal adalah kutukan pembunuh.
Rabu, 15 Desember 2010
ASTRONOMY : NEMESIS
Bintang kecil bernama Nemesis yang mengorbit sistem tata surya pada posisi 25 ribu kali jarak antara Bumi dengan Matahari. Bintang inilah yang diyakini sebagai penyebab kiamat di bumi termasuk punahnya dinosaurus 65 juta taHun yaNg LaLu. Nemesis diyakini memiliki ukuran 5 kali lebih besar dari Jupiter.
Nemesis pertama kali diajukan pada 1984 untuk menjelaskan siklus membingungkan dari kiamat kepunahan masal di bumi sekitar 27 juta tahun. Itu mirip dengan jam yang menunjukkan kepunahan massal yang serupa dengan penyingkiran dinosaurus (dan seluruh kehidupan di bumi) sekitar 65,5 juta tahun lalu. “Jika Anda melihat sesuatu dengan siklus biasa 10 juta atau 100 juta tahun, maka Anda akan berpikir bahwa hal ini menyangkut hal-hal astronomi,” kata fisikawan Adrian Melott dai University of Kansas di Lawrence, Kansas. “Contohnya, galaksi membutuhkan sekitar 250 juta tahun untuk sekali mengorbit.” Para ahli astronomi
Nemesis pertama kali diajukan pada 1984 untuk menjelaskan siklus membingungkan dari kiamat kepunahan masal di bumi sekitar 27 juta tahun. Itu mirip dengan jam yang menunjukkan kepunahan massal yang serupa dengan penyingkiran dinosaurus (dan seluruh kehidupan di bumi) sekitar 65,5 juta tahun lalu. “Jika Anda melihat sesuatu dengan siklus biasa 10 juta atau 100 juta tahun, maka Anda akan berpikir bahwa hal ini menyangkut hal-hal astronomi,” kata fisikawan Adrian Melott dai University of Kansas di Lawrence, Kansas. “Contohnya, galaksi membutuhkan sekitar 250 juta tahun untuk sekali mengorbit.” Para ahli astronomi
Senin, 13 Desember 2010
=Quidditch=
Olahraga Quidditch mulai diperkenalkan sejak seri pertama Harry Potter, dan mungkin olahraga ini merupakan salah satu daya tarik kisah Harry Potter. Di kalangan penyihir khususnya di Eropa, olaraga ini adalah yang paling populer. Namun ternyata masih cukup banyak yang kurang memahami bagaimana Quidditch dimainkan, apalagi bagi mereka yang hanya mengenal Quidditch dari film. Berikut adalah sedikit ulasan tentang Quidditch yang dirangkum dari buku Quidditch Dari Masa ke Masa.
Dikisahkan bahwa olahraga ini berasal dari Rawa Queerditch. Tapi sejak pertama kali dimainkan, Quidditch telah banyak mengalami perubahan. Misalnya digunakannya Golden Snitch untuk menggantikan burung Snidget yang hampir punah.
Pemain: Ada 7 pemain dalam Quidditch yaitu seorang keeper, tiga orang Chaser, dua orang Beater, dan seorang Seeker. Masing-masing memiliki tugas berbeda. Keeper manjaga gawang, Chaser berusaha mencetak gol, Beater memukul Bludger, dan Seeker berusaha mencari dan menangkap Snitch.
Dikisahkan bahwa olahraga ini berasal dari Rawa Queerditch. Tapi sejak pertama kali dimainkan, Quidditch telah banyak mengalami perubahan. Misalnya digunakannya Golden Snitch untuk menggantikan burung Snidget yang hampir punah.
Pemain: Ada 7 pemain dalam Quidditch yaitu seorang keeper, tiga orang Chaser, dua orang Beater, dan seorang Seeker. Masing-masing memiliki tugas berbeda. Keeper manjaga gawang, Chaser berusaha mencetak gol, Beater memukul Bludger, dan Seeker berusaha mencari dan menangkap Snitch.
Kesalahan Make-Up, 'HARRY POTTER 7 PART 2' Syuting Ulang
(KapanLagi.com) Rupanya para bintang HARRY POTTER bakal cukup senang karena tidak jadi berpisah dengan lawan main sekaligus teman-teman mereka di lokasi syuting. Pasalnya, mereka semua diharuskan berkumpul dan syuting lagi gara-gara kesalahan make up untuk adegan terakhir.
Daniel Radcliffe , Emma Watson , dan Rupert Grint sempat bersedih karena film yang dilakoninya selama 10 tahun terakhir ini harus berakhir. Namun mereka bisa lega karena bisa sekali lagi berkumpul dalam syuting ulangan HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART 2.
Syuting ulang ini terjadi setelah para produser melihat ada 'kesalahan' dalam adegan terakhir di mana ketiganya harusnya terlihat seperti pasangan muda yang menemani anak-anak mereka yang bersekolah. Namun rupanya make up yang dikenakan 'kebablasan' karena mereka justru terlihat terlalu tua.
Daniel Radcliffe , Emma Watson , dan Rupert Grint sempat bersedih karena film yang dilakoninya selama 10 tahun terakhir ini harus berakhir. Namun mereka bisa lega karena bisa sekali lagi berkumpul dalam syuting ulangan HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART 2.
Syuting ulang ini terjadi setelah para produser melihat ada 'kesalahan' dalam adegan terakhir di mana ketiganya harusnya terlihat seperti pasangan muda yang menemani anak-anak mereka yang bersekolah. Namun rupanya make up yang dikenakan 'kebablasan' karena mereka justru terlihat terlalu tua.
Minggu, 12 Desember 2010
Tongkat sihir Harry potter, james potter dan Voldemort
Untuk menyihir, Harry Potter dan temannya menggunakan tongkat sihir. Nah, di dunia muggle, kayu pembuat tongkat sihir digunakan untuk membuat peralatan rumah tangga. Memang, zaman yunani kuno pohon holly, bahan tongkat harry potter dalam harry potter and philosopher’s stone, digunakan untuk melindungi diri dari racun, cahaya, dan tentu saja pengaruh buruk sihir.
Holly juga lambang kebangkitan. Di negara empat musim digunakan untuk “membangkitkan” sinar matahari agar musim dingin segera berakhir. Karenanya, daun holly kerap menghiasi krans natal. Tanaman ini berbentuk semak dengan bentuk daun bergerigi dan tebal. Warna buahnya merah menarik. Karena sosoknya yang mudah dibentuk, di indonesia, holly berdaun kecil (ilex aquifoluium) banyak dibentuk menjadi binatang untuk hiasan di taman.
Tongkat Sihir James (Ayah Harry Potter)
Sedang tongkat ayah Harry Potter, James, terbuat dari kayu mahagoni. Di Indonesia lebih dikenal sebagai mahoni (Swietenia mahagoni). Kayu ini bagus untuk transfigurasi, yaitu mengubah bentuk suatu benda ke bentuk lain. Tongkat inilah yang membantu James dalam animagus, mengubah dirinya menjadi binatang.
Sedang tongkat ayah Harry Potter, James, terbuat dari kayu mahagoni. Di Indonesia lebih dikenal sebagai mahoni (Swietenia mahagoni). Kayu ini bagus untuk transfigurasi, yaitu mengubah bentuk suatu benda ke bentuk lain. Tongkat inilah yang membantu James dalam animagus, mengubah dirinya menjadi binatang.
Di Indonesia mahoni kerap dijadikan tanaman peneduh di pinggir jalan karena daunnya lebat. Buahnya sebesar kepalan tangan orang dewasa, berwarna coklat. Bila pecah, akan mengeluarkan biji yang bisa terbang layaknya baling-baling helikopter. Hati-hati, memang bijinya bagus tetapi batoknya bisa membuat benjol kepala. Kayu mahoni terkenal untuk perabotan rumah tangga. Meski tidak sekeras kayu jati, namun kemudahannya dibentuk membuat kayu ini favorit. Mungkin, sebab itu maka J.K. Rowling mengidentikkan dengan tongkat ampuh untuk transfigurasi.
Tongkat Sihir Lord Voldemort
Lord Voldemort, tokoh paling jahat dalam novel HP. Saking jahatnya, walah musuhnya sudah meninggal, Voldemort masih menyiksa arwah mereka dengan tongkat yang terbuat dari pohon yew. Dunia muggle memang mengenal pohon yew sebagai lambang kematian. Secara tradisional, kayu yew digunakan untuk membuat peti jenazah. Pada tahun 1991, di pegunungan Australia ditemukan mumi dalam peti yew. Selain itu, seluruh bagian dari yew mengandung racun yang mematikan.
Lord Voldemort, tokoh paling jahat dalam novel HP. Saking jahatnya, walah musuhnya sudah meninggal, Voldemort masih menyiksa arwah mereka dengan tongkat yang terbuat dari pohon yew. Dunia muggle memang mengenal pohon yew sebagai lambang kematian. Secara tradisional, kayu yew digunakan untuk membuat peti jenazah. Pada tahun 1991, di pegunungan Australia ditemukan mumi dalam peti yew. Selain itu, seluruh bagian dari yew mengandung racun yang mematikan.
Yew termasuk golongan cemara. Yang paling mematikan jenis Taxus biccata. Bisa ditebak, taxus merujuk ke racun (dari bahasa Yunani toxon). Kayu yew digunakan sebagai bahan aneka perkakas. Sebelum besi ditemukan, yew sebagai bahan utamanya. Terbukti dari penemuan artefak berbahan kayu yew di dekat Clacton, berusia 150.000 tahun. Semakin modern, kayu yew mengambil peranan penting. Bangsa Viking menggunakannya untuk membuat kapal. Sedangkan para pemburu menggunakannya untuk membuat senapan. Tentu saja setelah kayu tersebut dikeringkan dengan proses yang hati-hati sehingga racunnya tidak membahayakan.
Tongkat sihir dan bulan lahir
Ternyata bahan dasar tongkat untuk tongkat sihir itu berdasarkan dengan bulan lahir
Ini dia!
December 24 - January 20 = Birch (Beth)
January 21 - February 17 = Rowan (Luis)
February 18 - March 17 = Ash (Nion)
March 18 - April 14 = Alder (Fearn)
April 15 - May 12 = Willow (Saille)
May 13 - June 9 = Hawthorn (Huath)
June 10 - July 7 = Oak (Duir)
July 8 - August 4 = Holly (Tinne)
August 5 - September 1 = Hazel (Coll)
September 2 - September 29 = Vine (Muin)
September 30 - October 27 = Ivy (Gort)
October 28 - November 24 = Reed (Ngetal)
November 25 - December 23 = Elder (Ruis)
Sumbernya: http://www.jkrowling.com/textonly/en/extrastuff_view.cfm?id=18
Rabu, 10 November 2010
Haryy Potter fanfict ( Buku Harian Ginny Weasley )
(Note: Tulisan yang berwarna biru adalah adegan flashback.)
Di mana aku? Apa yang terjadi denganku?
Hal pertama yang dirasakan oleh Ginny ketika tersadar dari pingsannya adalah keheningan yang mencekam. Ia mencoba untuk bangkit, namun ternyata upayanya itu membutuhkan perjuangan ekstra keras. Akhirnya ia berhasil setengah mengangkat tubuhnya dari posisinya yang terbaring di lantai, lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Segala sesuatu di sekitarnya nampak remang-remang dan berpendaran cahaya suram kehijauan. Belasan pilar batu berbelit ular pahatan menjulang tinggi di kanan-kirinya, berjajar dalam ruangan sangat panjang yang seakan tak berujung…
Di mana aku? Tempat apa ini?
“Rupanya kau sudah sadar, Ginny Weasley.”
Ginny tersentak kaget, langsung menolehkan wajahnya ke arah asal suara. Dan dilihatnya, satu sosok seorang remaja pria berusia mungkin sekitar enam belas tahun—sedang berjalan (atau melayang…?) perlahan menghampirinya. Tepi-tepi tubuhnya nampak mengabur aneh—sesuatu yang awalnya tidak terlalu diperhatikan oleh Ginny, karena ada hal-hal lain yang lebih mendesak yang jauh lebih ingin diketahuinya pada saat ini.
“Siapa kau?” Ginny bertanya langsung.
“Kau pasti sudah tahu siapa aku,” sosok itu kembali berkata, seraya mengulurkan tangan kanannya, memperlihatkan kepada Ginny sebuah buku tipis berukuran mungil bersampul warna hitam kumal yang berada dalam genggamannya.
“Kau…” bisik Ginny akhirnya, menatap sosok di hadapannya dan buku mungil bersampul hitam itu berganti-ganti. “Kau…?”
Ginny membelalakkan matanya lebar-lebar. Baru saja sedetik yang lalu, ia menuliskan namanya pada lembaran pertama buku hariannya, detik berikutnya, tulisannya menghilang, seakan tintanya terhisap ke dalam kertas. Belum pulih rasa keheranannya, deretan tulisan berwarna emas terang mendadak muncul, tulisan yang lain, bukan tulisan yang baru saja dibuat oleh Ginny tadi.
“Halo Ginny Weasley, namaku Tom Riddle. Senang berkenalan denganmu. Aku juga senang kau mendapatkan buku harianku ini, dan sekarang akan kuhadiahkan kepadamu. Silahkan mulai menulisi buku harian ini. Tulis saja apa pun yang kau inginkan, dan aku akan menjadi sahabatmu yang paling setia, yang akan selalu mendengarkan semua ceritamu.”
Beberapa saat kemudian, tulisan itu pun lenyap.
Ginny ternganga menatap lembaran buku hariannya yang kembali kosong sama sekali, namun keraguannya hanya sekejab. Diraihnya pena bulunya, dan ia langsung menulis.
“Err… halo, Tom (boleh aku memanggilmu begitu?), oh, jadi buku harian ini milikmu? Yah, aku tidak sengaja menemukannya di antara tumpukan buku-bukuku… dan sekarang kau memberikannya padaku? Lalu apa saja yang bisa kutulis di sini?”
Jawabannya segera muncul, dan Ginny membacanya dengan penuh minat.
“Apa saja. Kau bisa menuliskan semua impianmu yang terdalam, rahasiamu yang tergelap sekali pun. Dan semua yang kau tulis akan tersimpan dengan aman. Tersimpan, Ginny, tapi tidak hilang, karena sewaktu-waktu jika kau ingin membacanya, kau bisa memanggilnya kembali. Coba bayangkan, bukankah ini sangat menyenangkan? Memiliki sebuah buku harian di mana kau bisa menyimpan segala rahasia hidupmu yang paling dalam dan dijamin aman karena tidak seorang pun yang bisa membacanya selain dirimu sendiri?”
“Keren banget,” tulis Ginny. “Tapi aku masih belum tahu apa yang mesti kutulis…”
“Well, yah, kau mungkin bisa mulai menulis tentang seorang anak laki-laki yang saat ini sedang kau sukai, seorang anak yang sangat hebat, luar biasa, dan kau sungguh tergila-gila padanya, namun sayangnya ia sama sekali tidak memperdulikanmu. Kurasa anak perempuan seusiamu pasti senang membicarakan hal-hal semacam itu, kan?”
Wajah Ginny bersemu merah. “Ah, Tom, kau ini bisa saja.”
“Seperti yang kukatakan tadi, aku pendengar yang sangat baik, Ginny.”
“Baiklah… kurasa aku bisa menulis tentang itu, tapi mulai besok saja, yah. Ini hari pertamaku di Hogwarts, dan aku capek banget, Tom. Jadi aku mau tidur dulu sekarang. Bye, Tom.”
“Oke. Selamat malam, Ginny. Selamat tidur.”
Ginny tersenyum dan menutup buku hariannya. Ia lalu bangkit meninggalkan mejanya, naik ke atas tempat tidurnya dan membaringkan diri. Tersenyum sekali lagi, Ginny meraih buku hariannya yang teletak di atas meja, mendekapnya erat-erat dalam pelukannya sampai akhirnya jatuh tertidur.
“Aku tidak menyangka kalau kau ternyata bisa keluar dari dalam buku harianku, Tom,” Ginny berkata, masih terus menatap sosok yang berdiri di hadapannya lekat-lekat. “Lalu kenapa kita berdua bisa berada di tempat ini?”
“Buku harianku,” lawan bicaranya mengoreksi, kelihatan tak senang. “Karena buku harian ini sebenarnya tidak pernah menjadi milikmu, Ginny. Tapi, yah, berkat kau akhirnya aku berhasil mewujudkan apa yang sangat kuimpikan selama lima puluh tahun ini… menjadi sosok manusia yang sempurna, bukan lagi sekedar memori—atau cabikan jiwa, mungkin itu istilah lebih tepatnya kalau boleh kubilang…”
Seraya terus berkata-kata, sosok di hadapan Ginny kembali berjalan mendekat. Dan Ginny memperhatikan… garis-garis tubuhnya membentuk semakin nyata, jelas, dan tegas, hingga akhirnya menjelma menjadi seorang penyihir muda seutuhnya, bertubuh tinggi jangkung dan wajah luar biasa tampan, dengan rambut hitam legam dan sepasang bola mata yang sewarna dengan rambutnya… namun entah kenapa, sama sekali tidak membuat Ginny merasa tertarik. Justru sebaliknya, ekspresi wajahnya yang bengis dan keji itu menjadikannya terlihat tak manusiawi… sekujur tubuh Ginny meremang.
“Kau masih belum menjawab pertanyaanku,” lanjut Ginny, berusaha mengabaikan detak jantungnya, yang sama sekali di luar kehendaknya—mulai dirasakannya bertalu kencang. “Kenapa kita berdua bisa berada di tempat ini? Tempat apa sih, ini…?”
Sosok Riddle tersenyum dingin. “Selamat datang di Kamar Rahasia, Ginny Weasley.”
Nafas Ginny memburu. Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku bisa berada di tempat ini?
Koridor panjang yang kosong, gelap, dan sunyi.
Aku seharusnya tidak berada di tempat ini! Di mana ini…?
“Hai, Ginny!”
Ginny memalingkan wajahnya ke arah asal suara yang memanggilnya. “Colin…?”
“Ginny, kau lagi ngapain di sini?”
“Aku…”
“Yah, sudahlah. Gin, kau dengar nggak suara ribut-ribut barusan? Kayaknya ada sesuatu sedang terjadi, deh. Anak-anak yang lain sudah pergi semua ke sana untuk melihatnya. Kita ke sana juga yuk, Gin!”
Ginny mengikuti teman sekelasnya itu. Seruan-seruan ramai mulai terdengar dari kejauhan. Segera saja, keduanya mencapai lokasi kejadian, menggabungkan diri bersama puluhan murid lainnya yang sudah terlebih dulu memadati tempat itu.
“Kamar Rahasia telah dibuka! Musuh Sang Pewaris, waspadalah!”
Ginny terperangah. Seperti semua anak yang pada awalnya memusatkan perhatian pada sosok kucing membatu yang tergantung di dinding, kini mereka semua mengalihkan pandangan pada barisan huruf-huruf bernada mengancam yang terpulas di atasnya. Huruf-huruf itu, Ginny mengawasi, seluruhnya dibuat oleh darah, nampak masih segar dan baru… Ginny bergidik.
“Semua murid harap meninggalkan ruangan ini sekarang juga,” suara Profesor Dumbledore menggelegar. “Semuanya, kembali ke asrama masing-masing… kecuali kalian bertiga—Mr Potter, Mr Weasley, Miss Granger…”
“Mengerikan, yah,” komentar Colin, ketika ia, Ginny, dan rombongan anak-anak yang lain berjalan berbarengan meninggalkan tempat itu. “Kira-kira siapa yang membuat tulisan itu, ya, Gin… dan apa maksudnya?”
“Yeah…”
Namun mendadak sekali, Colin Creevey menghentikan langkahnya. Wajahnya membeku menatap Ginny.
“Colin, ada apa…?”
“Ginny… ta-tanganmu…”
Refleks, Ginny melihat ke arah tangannya… dan langsung menjerit sejadi-jadinya ketika menyaksikan kedua telapak tangannya berlumuran darah merah segar…
“Tidaaaaaaakkkk….!!!”
Kepala Ginny bagaikan berputar. Namun seperti ada yang menyalakan lampu di dalam otaknya, akhirnya sekarang ia mengerti semuanya… bahwa, ketakutan terbesarnya saat ini—mungkin akan segera menjadi kenyataan. Nafasnya mulai sesak, seakan ada belasan tangan tak terlihat berusaha mencekik lehernya. Dan kenapa juga tubuhnya mendadak terasa lemas tak bertenaga begini? Kenapa?
“Kalau sejak awal aku tahu kau cuma ingin memanfaatkanku, tentu saja aku tidak akan sudi menulis di dalam buku harian itu,” engah Ginny. Dan sebenarnya aku pun sudah mulai mencurigainya. Itu sebabnya aku lalu membuang buku harian itu. Tapi betapa bodohnya aku malah mengambilnya lagi.
Riddle tertawa. Tawa yang melengking, dingin, dan menusuk, yang sama sekali tidak sesuai untuknya.
“Dia tidak akan datang,” kata Ginny berani.
“Oh, tentu saja dia akan datang,” Riddle menyeringai. “Seorang anak yang sangat hebat, pemberani, dan setia kawan seperti dirinya pastinya tidak akan membiarkan adik perempuan sahabat terbaiknya dalam bahaya, kan? Seluruh isi buku harianku penuh kau tulisi dengan namanya—Harry Potter, lagi, dan lagi… sungguh, itu membuatku sangat muak, tapi lebih dari cukup untuk mendapatkan semua informasi yang kubutuhkan tentang dirinya. Dan apakah dia memang seistimewa seperti yang kau dan semua orang selalu dengungkan? Aku akan segera tahu jawabannya sebentar lagi.”
“Dia sudah pernah mengalahkanmu sekali, apa tidak mungkin dia akan mengalahkanmu lagi kali ini?” Ginny berbicara lagi, asal saja, di antara gelombang demi gelombang kepanikan yang semakin deras melandanya. Tubuhnya terasa benar-benar lemas sekarang, memaksanya untuk ambruk kembali ke lantai. Dicobanya untuk menggerakkan salah satu anggota tubuhnya, namun ternyata ia tidak kuasa melakukannya. Dalam sekejab sekujur tubuh Ginny terpaku ke lantai, seolah terkena kutukan ikat-tubuh-sempurna.
“Bagaimana keadaanmu?” bisik Riddle, mencondongkan wajahnya ke arah Ginny dan tangan kanannya terulur, ujung jari-jarinya yang panjang dan dingin menyentuh wajah Ginny.
“Jangan sentuh aku!” Ginny berteriak marah.
“Tidak akan kulakukan lagi,” serta merta Riddle menarik tangannya, seakan tersetrum aliran listrik. “Toh, darah pengkhianat sama kotor dan menjijikkannya dengan darah lumpur dan muggle di mataku. Aku cuma ingin tahu, masih berapa banyak waktu yang kau miliki. Tapi kurasa tak banyak lagi kehidupan yang tersisa dalam dirimu sekarang. Yah, di saat kau semakin lemah, aku semakin bertambah kuat. Ironis sekali ya, ketika dia datang nanti, dia harus menyaksikan kematianmu seperti ini… dan kematiannya sendiri juga, tentu saja. Yah, kurasa sudah tiba waktunya aku mengucapkan selamat tinggal kepadamu, Ginny Weasley…”
Jadi seperti ini rasanya kematian, batin Ginny, bersamaan dengan pemandangan di sekelilingnya semakin menggelap. Merasakan detik-detik nyawamu merayap perlahan-lahan meninggalkan ragamu. Kesakitan yang luar biasa, tak terperikan… seakan ribuan kutukan Cruciatus dihunjamkan kepadamu… merasakan setiap sel-sel kulit, tulang, dan daging tubuhmu bagaikan terkoyak, tersayat… Air mata panas membanjiri wajah Ginny ketika satu demi satu, bayangan wajah orang-orang yang dicintainya berkelebat dalam benaknya. Selamat tinggal semuanya… Mum, Dad… Ron… Percy… Bill… George… Fred… Charlie… dan… Harry…
Lalu kemudian, wajah Harry tergambar jelas dalam pandangannya, dengan sepasang mata hijaunya yang berkilat menyala, pada saat itulah, sebuah kesadaran yang begitu tiba-tiba datangnya, menghantam Ginny dengan amat telak. Ia tidak boleh mati! …Adalah hal yang paling konyol dan menyedihkan jika ia sampai kehilangan ajalnya di tempat ini, dan jasadnya terkubur berkilo-kilo meter di ruang bawah tanah Hogwarts, terabaikan dan terlupakan… ia harus hidup. Harus! …Entah bagaimana caranya, tetapi ia harus berhasil keluar dari tempat ini dengan selamat untuk menebus semua kesalahan yang telah dilakukannya, dan yang terlebih penting lagi—memberitahukan kepada seluruh dunia siapakah Pewaris Slytherin yang sesungguhnya.
Maka Ginny pun berjuang, sekuat tenaga mempertahankan kesadaran tetap berada di dalam kepalanya. Lalu suara-suara apakah itu? Pada mulanya sayup terdengar di kejauhan, lalu semakin mendekat… raungan yang memekakkan telinga, jeritan panjang mengerikan, lolongan tajam menusuk, kemudian akhirnya… sunyi.
Mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, Ginny akhirnya berhasil membuka kedua matanya. Samar pada awalnya sebelum akhirnya fokus, dilihatnya seraut wajah membungkuk tepat di hadapannya, sepasang mata hijau cemerlang menatapnya penuh kecemasan, hanya beberapa senti di atas wajah Ginny.
“Ginny, jangan mati, please… Ginny, bangun, dong…”
“Har… ry…?”
FIN
© Mela Muggle 09 Juni 2010.
Di mana aku? Apa yang terjadi denganku?
Hal pertama yang dirasakan oleh Ginny ketika tersadar dari pingsannya adalah keheningan yang mencekam. Ia mencoba untuk bangkit, namun ternyata upayanya itu membutuhkan perjuangan ekstra keras. Akhirnya ia berhasil setengah mengangkat tubuhnya dari posisinya yang terbaring di lantai, lalu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Segala sesuatu di sekitarnya nampak remang-remang dan berpendaran cahaya suram kehijauan. Belasan pilar batu berbelit ular pahatan menjulang tinggi di kanan-kirinya, berjajar dalam ruangan sangat panjang yang seakan tak berujung…
Di mana aku? Tempat apa ini?
“Rupanya kau sudah sadar, Ginny Weasley.”
Ginny tersentak kaget, langsung menolehkan wajahnya ke arah asal suara. Dan dilihatnya, satu sosok seorang remaja pria berusia mungkin sekitar enam belas tahun—sedang berjalan (atau melayang…?) perlahan menghampirinya. Tepi-tepi tubuhnya nampak mengabur aneh—sesuatu yang awalnya tidak terlalu diperhatikan oleh Ginny, karena ada hal-hal lain yang lebih mendesak yang jauh lebih ingin diketahuinya pada saat ini.
“Siapa kau?” Ginny bertanya langsung.
“Kau pasti sudah tahu siapa aku,” sosok itu kembali berkata, seraya mengulurkan tangan kanannya, memperlihatkan kepada Ginny sebuah buku tipis berukuran mungil bersampul warna hitam kumal yang berada dalam genggamannya.
“Kau…” bisik Ginny akhirnya, menatap sosok di hadapannya dan buku mungil bersampul hitam itu berganti-ganti. “Kau…?”
***
Ginny membelalakkan matanya lebar-lebar. Baru saja sedetik yang lalu, ia menuliskan namanya pada lembaran pertama buku hariannya, detik berikutnya, tulisannya menghilang, seakan tintanya terhisap ke dalam kertas. Belum pulih rasa keheranannya, deretan tulisan berwarna emas terang mendadak muncul, tulisan yang lain, bukan tulisan yang baru saja dibuat oleh Ginny tadi.
“Halo Ginny Weasley, namaku Tom Riddle. Senang berkenalan denganmu. Aku juga senang kau mendapatkan buku harianku ini, dan sekarang akan kuhadiahkan kepadamu. Silahkan mulai menulisi buku harian ini. Tulis saja apa pun yang kau inginkan, dan aku akan menjadi sahabatmu yang paling setia, yang akan selalu mendengarkan semua ceritamu.”
Beberapa saat kemudian, tulisan itu pun lenyap.
Ginny ternganga menatap lembaran buku hariannya yang kembali kosong sama sekali, namun keraguannya hanya sekejab. Diraihnya pena bulunya, dan ia langsung menulis.
“Err… halo, Tom (boleh aku memanggilmu begitu?), oh, jadi buku harian ini milikmu? Yah, aku tidak sengaja menemukannya di antara tumpukan buku-bukuku… dan sekarang kau memberikannya padaku? Lalu apa saja yang bisa kutulis di sini?”
Jawabannya segera muncul, dan Ginny membacanya dengan penuh minat.
“Apa saja. Kau bisa menuliskan semua impianmu yang terdalam, rahasiamu yang tergelap sekali pun. Dan semua yang kau tulis akan tersimpan dengan aman. Tersimpan, Ginny, tapi tidak hilang, karena sewaktu-waktu jika kau ingin membacanya, kau bisa memanggilnya kembali. Coba bayangkan, bukankah ini sangat menyenangkan? Memiliki sebuah buku harian di mana kau bisa menyimpan segala rahasia hidupmu yang paling dalam dan dijamin aman karena tidak seorang pun yang bisa membacanya selain dirimu sendiri?”
“Keren banget,” tulis Ginny. “Tapi aku masih belum tahu apa yang mesti kutulis…”
“Well, yah, kau mungkin bisa mulai menulis tentang seorang anak laki-laki yang saat ini sedang kau sukai, seorang anak yang sangat hebat, luar biasa, dan kau sungguh tergila-gila padanya, namun sayangnya ia sama sekali tidak memperdulikanmu. Kurasa anak perempuan seusiamu pasti senang membicarakan hal-hal semacam itu, kan?”
Wajah Ginny bersemu merah. “Ah, Tom, kau ini bisa saja.”
“Seperti yang kukatakan tadi, aku pendengar yang sangat baik, Ginny.”
“Baiklah… kurasa aku bisa menulis tentang itu, tapi mulai besok saja, yah. Ini hari pertamaku di Hogwarts, dan aku capek banget, Tom. Jadi aku mau tidur dulu sekarang. Bye, Tom.”
“Oke. Selamat malam, Ginny. Selamat tidur.”
Ginny tersenyum dan menutup buku hariannya. Ia lalu bangkit meninggalkan mejanya, naik ke atas tempat tidurnya dan membaringkan diri. Tersenyum sekali lagi, Ginny meraih buku hariannya yang teletak di atas meja, mendekapnya erat-erat dalam pelukannya sampai akhirnya jatuh tertidur.
****
“Aku tidak menyangka kalau kau ternyata bisa keluar dari dalam buku harianku, Tom,” Ginny berkata, masih terus menatap sosok yang berdiri di hadapannya lekat-lekat. “Lalu kenapa kita berdua bisa berada di tempat ini?”
“Buku harianku,” lawan bicaranya mengoreksi, kelihatan tak senang. “Karena buku harian ini sebenarnya tidak pernah menjadi milikmu, Ginny. Tapi, yah, berkat kau akhirnya aku berhasil mewujudkan apa yang sangat kuimpikan selama lima puluh tahun ini… menjadi sosok manusia yang sempurna, bukan lagi sekedar memori—atau cabikan jiwa, mungkin itu istilah lebih tepatnya kalau boleh kubilang…”
Seraya terus berkata-kata, sosok di hadapan Ginny kembali berjalan mendekat. Dan Ginny memperhatikan… garis-garis tubuhnya membentuk semakin nyata, jelas, dan tegas, hingga akhirnya menjelma menjadi seorang penyihir muda seutuhnya, bertubuh tinggi jangkung dan wajah luar biasa tampan, dengan rambut hitam legam dan sepasang bola mata yang sewarna dengan rambutnya… namun entah kenapa, sama sekali tidak membuat Ginny merasa tertarik. Justru sebaliknya, ekspresi wajahnya yang bengis dan keji itu menjadikannya terlihat tak manusiawi… sekujur tubuh Ginny meremang.
“Kau masih belum menjawab pertanyaanku,” lanjut Ginny, berusaha mengabaikan detak jantungnya, yang sama sekali di luar kehendaknya—mulai dirasakannya bertalu kencang. “Kenapa kita berdua bisa berada di tempat ini? Tempat apa sih, ini…?”
Sosok Riddle tersenyum dingin. “Selamat datang di Kamar Rahasia, Ginny Weasley.”
***
Nafas Ginny memburu. Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku bisa berada di tempat ini?
Koridor panjang yang kosong, gelap, dan sunyi.
Aku seharusnya tidak berada di tempat ini! Di mana ini…?
“Hai, Ginny!”
Ginny memalingkan wajahnya ke arah asal suara yang memanggilnya. “Colin…?”
“Ginny, kau lagi ngapain di sini?”
“Aku…”
“Yah, sudahlah. Gin, kau dengar nggak suara ribut-ribut barusan? Kayaknya ada sesuatu sedang terjadi, deh. Anak-anak yang lain sudah pergi semua ke sana untuk melihatnya. Kita ke sana juga yuk, Gin!”
Ginny mengikuti teman sekelasnya itu. Seruan-seruan ramai mulai terdengar dari kejauhan. Segera saja, keduanya mencapai lokasi kejadian, menggabungkan diri bersama puluhan murid lainnya yang sudah terlebih dulu memadati tempat itu.
“Kamar Rahasia telah dibuka! Musuh Sang Pewaris, waspadalah!”
Ginny terperangah. Seperti semua anak yang pada awalnya memusatkan perhatian pada sosok kucing membatu yang tergantung di dinding, kini mereka semua mengalihkan pandangan pada barisan huruf-huruf bernada mengancam yang terpulas di atasnya. Huruf-huruf itu, Ginny mengawasi, seluruhnya dibuat oleh darah, nampak masih segar dan baru… Ginny bergidik.
“Semua murid harap meninggalkan ruangan ini sekarang juga,” suara Profesor Dumbledore menggelegar. “Semuanya, kembali ke asrama masing-masing… kecuali kalian bertiga—Mr Potter, Mr Weasley, Miss Granger…”
“Mengerikan, yah,” komentar Colin, ketika ia, Ginny, dan rombongan anak-anak yang lain berjalan berbarengan meninggalkan tempat itu. “Kira-kira siapa yang membuat tulisan itu, ya, Gin… dan apa maksudnya?”
“Yeah…”
Namun mendadak sekali, Colin Creevey menghentikan langkahnya. Wajahnya membeku menatap Ginny.
“Colin, ada apa…?”
“Ginny… ta-tanganmu…”
Refleks, Ginny melihat ke arah tangannya… dan langsung menjerit sejadi-jadinya ketika menyaksikan kedua telapak tangannya berlumuran darah merah segar…
“Tidaaaaaaakkkk….!!!”
***
Kepala Ginny bagaikan berputar. Namun seperti ada yang menyalakan lampu di dalam otaknya, akhirnya sekarang ia mengerti semuanya… bahwa, ketakutan terbesarnya saat ini—mungkin akan segera menjadi kenyataan. Nafasnya mulai sesak, seakan ada belasan tangan tak terlihat berusaha mencekik lehernya. Dan kenapa juga tubuhnya mendadak terasa lemas tak bertenaga begini? Kenapa?
“Kalau sejak awal aku tahu kau cuma ingin memanfaatkanku, tentu saja aku tidak akan sudi menulis di dalam buku harian itu,” engah Ginny. Dan sebenarnya aku pun sudah mulai mencurigainya. Itu sebabnya aku lalu membuang buku harian itu. Tapi betapa bodohnya aku malah mengambilnya lagi.
Riddle tertawa. Tawa yang melengking, dingin, dan menusuk, yang sama sekali tidak sesuai untuknya.
“Dia tidak akan datang,” kata Ginny berani.
“Oh, tentu saja dia akan datang,” Riddle menyeringai. “Seorang anak yang sangat hebat, pemberani, dan setia kawan seperti dirinya pastinya tidak akan membiarkan adik perempuan sahabat terbaiknya dalam bahaya, kan? Seluruh isi buku harianku penuh kau tulisi dengan namanya—Harry Potter, lagi, dan lagi… sungguh, itu membuatku sangat muak, tapi lebih dari cukup untuk mendapatkan semua informasi yang kubutuhkan tentang dirinya. Dan apakah dia memang seistimewa seperti yang kau dan semua orang selalu dengungkan? Aku akan segera tahu jawabannya sebentar lagi.”
“Dia sudah pernah mengalahkanmu sekali, apa tidak mungkin dia akan mengalahkanmu lagi kali ini?” Ginny berbicara lagi, asal saja, di antara gelombang demi gelombang kepanikan yang semakin deras melandanya. Tubuhnya terasa benar-benar lemas sekarang, memaksanya untuk ambruk kembali ke lantai. Dicobanya untuk menggerakkan salah satu anggota tubuhnya, namun ternyata ia tidak kuasa melakukannya. Dalam sekejab sekujur tubuh Ginny terpaku ke lantai, seolah terkena kutukan ikat-tubuh-sempurna.
“Bagaimana keadaanmu?” bisik Riddle, mencondongkan wajahnya ke arah Ginny dan tangan kanannya terulur, ujung jari-jarinya yang panjang dan dingin menyentuh wajah Ginny.
“Jangan sentuh aku!” Ginny berteriak marah.
“Tidak akan kulakukan lagi,” serta merta Riddle menarik tangannya, seakan tersetrum aliran listrik. “Toh, darah pengkhianat sama kotor dan menjijikkannya dengan darah lumpur dan muggle di mataku. Aku cuma ingin tahu, masih berapa banyak waktu yang kau miliki. Tapi kurasa tak banyak lagi kehidupan yang tersisa dalam dirimu sekarang. Yah, di saat kau semakin lemah, aku semakin bertambah kuat. Ironis sekali ya, ketika dia datang nanti, dia harus menyaksikan kematianmu seperti ini… dan kematiannya sendiri juga, tentu saja. Yah, kurasa sudah tiba waktunya aku mengucapkan selamat tinggal kepadamu, Ginny Weasley…”
Jadi seperti ini rasanya kematian, batin Ginny, bersamaan dengan pemandangan di sekelilingnya semakin menggelap. Merasakan detik-detik nyawamu merayap perlahan-lahan meninggalkan ragamu. Kesakitan yang luar biasa, tak terperikan… seakan ribuan kutukan Cruciatus dihunjamkan kepadamu… merasakan setiap sel-sel kulit, tulang, dan daging tubuhmu bagaikan terkoyak, tersayat… Air mata panas membanjiri wajah Ginny ketika satu demi satu, bayangan wajah orang-orang yang dicintainya berkelebat dalam benaknya. Selamat tinggal semuanya… Mum, Dad… Ron… Percy… Bill… George… Fred… Charlie… dan… Harry…
Lalu kemudian, wajah Harry tergambar jelas dalam pandangannya, dengan sepasang mata hijaunya yang berkilat menyala, pada saat itulah, sebuah kesadaran yang begitu tiba-tiba datangnya, menghantam Ginny dengan amat telak. Ia tidak boleh mati! …Adalah hal yang paling konyol dan menyedihkan jika ia sampai kehilangan ajalnya di tempat ini, dan jasadnya terkubur berkilo-kilo meter di ruang bawah tanah Hogwarts, terabaikan dan terlupakan… ia harus hidup. Harus! …Entah bagaimana caranya, tetapi ia harus berhasil keluar dari tempat ini dengan selamat untuk menebus semua kesalahan yang telah dilakukannya, dan yang terlebih penting lagi—memberitahukan kepada seluruh dunia siapakah Pewaris Slytherin yang sesungguhnya.
Maka Ginny pun berjuang, sekuat tenaga mempertahankan kesadaran tetap berada di dalam kepalanya. Lalu suara-suara apakah itu? Pada mulanya sayup terdengar di kejauhan, lalu semakin mendekat… raungan yang memekakkan telinga, jeritan panjang mengerikan, lolongan tajam menusuk, kemudian akhirnya… sunyi.
Mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, Ginny akhirnya berhasil membuka kedua matanya. Samar pada awalnya sebelum akhirnya fokus, dilihatnya seraut wajah membungkuk tepat di hadapannya, sepasang mata hijau cemerlang menatapnya penuh kecemasan, hanya beberapa senti di atas wajah Ginny.
“Ginny, jangan mati, please… Ginny, bangun, dong…”
“Har… ry…?”
FIN
© Mela Muggle 09 Juni 2010.
Langganan:
Postingan (Atom)